Bulan Sabit dan Bintang: Lambang Islam?

February 24, 2008

 

 

Z

 

Bulan sabit dan bintang hampir selalu diasosiasikan dengan agama Islam atau muslim. Tak salah, memang, jika masyarakat muslim dikaitkan dengan simbol tersebut. Orang bisa dengan menunjuk buktinya: tak kurang dari sepuluh negara muslim – mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam – memasang simbol bulan sabit dan bintang, bulan sabit dan lambang lain, atau bintang saja sebagai lambang negara atau bendera. Shahihkah pernyataan bahwa bintang dan bulan sabit adalah lambang Islam?

 

Di kalangan masyarakat muslim, bulan sabit dan bintang digunakan dengan intensitas yang sangat tinggi. Sekilas orang akan menyangka bahwa peran simbol bulan sabit dan bintang di agama Islam sama penting dengan lambang salib di agama Nasrani. Bahkan ada penulis Amerika beragama Kristen yang menulis buku berjudul (dalam terjemahan Indonesia) Salib dan Bulan Sabit. Nampaknya orang di luar Islam pun menangkap betapa pentingnya lambang bulan sabit dan bintang di alam pikiran masyarakat muslim.

 

Negara-negara muslim yang menggunakan lambang bulan sabit dan bintang (atau bulan sabit saja) antara lain Turki, Komoro, Tunisia, Aljazair, Mauritania, Maladewa, Pakistan, Malaysia, Turkmenistan, Uzbekistan. Sesuai dengan definisi di atas, yang disebutkan di atas adalah negara-negara yang mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam. Dengan definisi ini, saya tidak memasukkan Singapura karena masyarakat muslim hanyalah minoritas di negara tersebut (±14%).

 

 

Aljazair

Azerbaijan

Malaysia

Maladewa

Pakistan

Tunisia

Turkmenistan

Uzbekistan

Sahara Barat

Mauritania

Turki

Komoro

 

 

Di Indonesia penggunaan lambang bintang dan bulan sabit berserakan di setiap sudut permukiman. Yang dimaksud adalah lambang bulan sabit dan bintang yang terpasang di atas kubah ‘bawang’ aluminium. Kubah ‘bawang’ telah menjadi salah satu mata pencaharian sangat besar perajin aluminium. Saat ini kebanyakan orang Indonesia merasa kurang afdhal jika tidak terpasang kubah ‘bawang’ di atap masjid. Tentu saja, di atasnya terlihat mencuat lambang bulan sabit dan bintang. Kadang-kadang terpasang juga sebentuk lafazh nama اﷲ ‘Allah’.

 

Kelompok lain di masyarakat muslim yang gemar menggunakan lambang bulan sabit dan bintang (atau tanpa bintang) adalah partai politik ‘berhaluan Islam’. Yang paling awal adalah Partai Sarekat Islam Islam Indonesia dan Madjlis Sjura’ Muslim Indonesia (Masjumi) di Pemilu 1955. Menyusul setelah itu Muslimin Indonesia,  Partai Bulan Bintang, Partai Sarekat Islam 1905, Partai Sarekat Islam, Partai Keadilan (dan penerusnya, Partai Keadilan Sejahtera). Partai-partai tersebut adalah yang menggunakan lambang bulan sabit dan bintang atau bulan sabit tanpa bintang.

 

 

 

 

 

Partai Bulan Bintang

Partai Syarikat Islam Indonesia 1905

Partai Umat Islam

Partai Politik Islam Indonesia Masyumi

Madjlis Sjura’ Muslim Indonesia (Masjumi)

Partai Syarikat Islam Indonesia

Masyumi Baru

Partai Keadilan Sejahtera

 

 

Ada lagi partai-partai politik ‘berhaluan Islam’ yang menggunakan lambang bintang yang dikombinasikan dengan lambang lain, misalnya Partai Nahdlatul Ummat dan Partai Kebangkitan Ummat. Partai-partai itu merupakan tempat bernaung warga Nahdlatul Ulama (NU). Oleh karena itu, yang digunakan pada dasarnya adalah lambang NU juga: jagat lintang sanga (bumi dan sembilan bintang).

 

Partai Nahdlatul Ummat

Partai Kebangkitan Umat

 

 

Yang agak jarang tersorot adalah lambang organisasi lokal. Di antaranya bendera GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Bendera GAM adalah bendera berwarna dasar merah dengan dua strip hitam/putih horisontal. Di antara kedua  strip tersebut ada lambang bulan sabit dan bintang. Di kalangan masyarakat muslim Aceh yang terkenal religius, tentunya pencantuman lambang ini berkesan sangat dalam. Hal ini berlaku bila lambang bulan sabit dan bintang benar-benar dikaitkan dengan agama Islam. Lambang yang mirip digunakan juga oleh gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia.

 

Gerakan Aceh Merdeka

(GAM)

Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)

 

Setelah dipaparkan peran lambang ‘Bulan Sabit dan Bintang’, terlihat jelas bahwa begitu besar peran lambang tersebut di masyarakat muslim. Tak salah rasanya bila orang-orang menganggap bahwa Bulan Sabit dan Bintang adalah lambang masyarakat muslim, bahkan ada yang menganggapnya lambang agama Islam. Anggapan ini merata luas di masyarakat muslim dan non-muslim. Contoh konkretnya, lambang ‘Bulan Sabit dan Bintang’ setelah judul utama di atas didapatkan dari font Wingdings di Microsoft Windows. Kode Unicode U+262A. Lambang tersebut ditempatkan setelah deretan Salib dan Bintang David (Yahudi) dan sebelum lambang Yin-Yang, Om (Hindu) dan Mandala (Buddha). Jelas sekali maksud si penyusun: lambang bulan sabit dan bintang adalah lambang agama/keyakinan spiritual.

 

Seperti telah disebutkan di atas, bagi banyak orang peran penting lambang bulan sabit dan bintang bagi masyarakat muslim hampir-hampir seperti peran lambang salib di agama Kristen. Toh, lagi-lagi akan timbul pertanyaan di pikiran orang yang cukup penasaran: benarkah lambang Bintang dan Bulan Sabit adalah lambang agama Islam?

 

Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa lambang bulan sabit dan bintang telah lama digunakan sebelum masa Islam. Imperium Persia telah menggunakan lambang bulan sabit dan bintang. Bahkan, lambang tersebut tercantum pada mata uang yang diterbitkan pada masa Khosrau II. Dialah Kisra yang dikisahkan merobek-robek surat Rasulullah . Gambar bisa dilihat di bawah ini.

 

Mata Uang Emas Persia, Bergambar Khosrau II

Perhatikan bulan sabit dan bintang di atas kepala!

 

Mata Uang Perak Persia, Bergambar Khosrau II

Empat pasang bulan sabit dan bintang di empat penjuru!

 

Lambang bulan sabit telah digunakan oleh masyarakat Yunani yang mendirikan kota βυζαντιον (orang Romawi menyebutnya Byzantivm) sejak ± 670 SM. Mereka menggunakan lambang tersebut dalam kaitannya dengan penyembahan kepada αρτεμισ Artemis, dewi bulan dan perburuan.

Lambang Byzantion (kemudian: Constantinopolis)

Bulan Sabit Artemis/Diana

 

Kota Byzantium jatuh ke tangan Romawi pada abad ke-2 SM. Tidak ada perubahan berarti di sana karena bangsa Romawi sangat mengagumi budaya Yunani. Justru setelah Yunani dikuasai, bangsa Romawi makin ter-Yunani-kan. Ibadah agama Yunani kuno pun diserap ke dalam agama Romawi dan dipertahankan, di antaranya penyembahan kepada Artemis. Di dalam istilah Romawi dewi Artemis dikenal dengan nama Diana.

 

αρτεμισ / Diana

hiasan di kepalanya melambangkan bulan sabit

 

Mata uang Perak romawi, bergambar Ivlivs Caesar

Bulan sabit di belakang kepala

 

Keika Kaisar Constantinvs I berkuasa (306-337), dia membuat perubahan-perubahan besar pada tahun 330, di antaranya:

  1. Dia memindahkan ibukota Romawi dari Roma ke kota Byzantium. Dia ganti nama kota itu menjadi Nova Roma, artinya ‘Roma Baru’. Dalam percakapan sehari-hari, orang pada zaman itu juga menyebut kota itu Κωνσταντινουπολη (Constantinopolis), artinya ‘Kota Constantinus’. Orang sekarang biasa menyebutnya Istanbul (keputusan pemerintah sekuler Republik Turki sejak 1928).
  2. Dia menyatakan agama Nasrani sebagai agama negara. Sebelumnya beberapa kaisar Romawi telah memberikan kebebasan beragama kepada orang Nasrani, tetapi tidak sebagai agama negara. Sebelumnya lagi, para kaisar Romawi seolah-olah berlomba-lomba membantai penganut Nasrani.

 

Keputusan-keputusan di atas selanjutnya mempengaruhi karakter kota Constantinopolis atau Konstantinopel. Kota Konstantinopel yang sebelumnya yang sebelumnya adalah kota penyembah Artemis/Diana dari agama Yunani kuno berubah menjadi kota Kristen. Lambang kota yang berbentuk bulan sabit ditambahi lambang bintang yang melambangkan Bunda Maria, ibunda Yesus Kristus (salah satu gelar yang diberikan kepadanya adalah stella maris, ‘bintang lautan’). Sejak saat itu, lambang Bulan Sabit dan Bintang menjadi lambang kota Konstantinopel, ibukota Romawi.

 

 

Lambang Constantinopolis

Bulan Sabit (Artemis) dan Bintang (Bunda Maria)

 

Sejak abad ke-15, masyarakat Turki Utsmani (ada masyarakat Turki dari suku lain, misalnya Kazakh, Uzbek, Turkmen) telah menguasai banyak wilayah Romawi. Pada tahun 1453, pasukan Turki Utsmani (orang Barat menyebutnya Ottoman) memasuki Konstantinopel, sekaligus mengakhiri pemerintahan Romawi yang telah berusia ± 2000 tahun (jika dihitung sejak pendirian kota Roma).

 

Wilayah Turki Utsmani pada berbagai masa [creator: Atilim Gunes Baydin]

 

Dipimpin oleh Sultan Muhammad II (محمّد), pasukan Turki yang mayoritas beragama Islam menganti lagi karakter kota Konstantinopel menjadi kota yang bergaya Asia dan bercorak budaya masyarakat muslim. Nama kota dipertahankan, tetapi disesuaikan dengan lidah Arab (sebagaimana yang diucapkan oleh Rasulullah Muhammad ), yaitu قسطنطينيّة  Qusţanţīniyyah, ‘Kota Konstantin’.

 

Muhammad II, Sultan Turki Utsmani

 

Pemerintah Turki Utsmani mengubah banyak hal, juga mempertahankan banyak hal.

  1. Konstantinopel/ Qusţanţīniyyah menjadi ibukota Kesultanan Turki Utsmani, dan di kemudian hari menjadi ibukota Khilafah Utsmani (terjadi saat Sultan Salīm I (سليم) mengambil alih kekuasaan khilafah dari Khalifah Abbasiyah terakhir, Al-Mutawakkil-billāh III (المتوكّل بالله), di Qahirah/Kairo)
  2. Gereja αγια σοφια Hagia Sofia, gereja pusat penyebaran agama Kristen Orthodox, diubah menjadi masjid; patung-patung Nasrani disingkirkan, gambar-gambar ditutup.
  3. Arsitektur khas Romawi Timur, diwakili oleh Gereja Hagia Sofia, menjadi model untuk pembangunan masjid-masjid di seluruh wilayah Utsmani (kubah adalah ciri khas yang paling terlihat)
  4. Lambang Konstantinopel, Bulan Sabit dan Bintang, menjadi lambang berbagai kesatuan di laskar Utsmani; di kemudian hari lambang tersebut bahkan menjadi lambang Khilafah Utsmani.

 

Kubah adalah gaya khas bangunan penting dan kuil-kuil Romawi (Barat dan Timur). Di Gaya Arsitektur Romawi Timur mempengaruhi tempat-tempat ibadah di negeri-negeri beragama Kristen Orthodox, misalnya Rusia, Bulgaria, Romania.

 

Bentuk Asli Gereja Hagia Sofia di Konstantinopel

 

Gereja Santo Vasily di Moskwa

 

Katedral Santo Aleksander Nevskiy di Sofia, Bulgaria

 

Dengan beralihnya kekuasaan khilafah dari keluarga Abbas (Abbasiyah, Arab) ke tangan keluarga Utsmani (Turki), negeri-negeri Islam mulai memandang dinasti Utsmani dan Konstantinopel sebagai pengayom dan model kehidupan. Hal ini sempat terjadi di Timur Tengah. Di masa inilah masjid-masjid dipasangi kubah dan menara (menyerupai Masjid Aya Sofia, bekas Gereja Hagia Sofia), bulan sabit dan bintang meraih popularitas di masyarakat muslim.

 

Bendera Khilafah Utsmani pada periode 1844-1922

bekas Masjid Aya Sofia, sekarang Museum Aya Sofia

di Istanbul (dahulu Constantinopolis/Qusţanţīniyyah)

 

Masjid Selimiye (Sultan Salim) di Edirne (dahulu: Adrianopolis)

 

Masjid Biru (Masjid Sultan Ahmad) di Istanbul

(dahulu: Constantinopolis/Qusţanţīniyyah

 

Nampaknya karena Nusantara terlalu jauh dari Turki, negeri-negeri di Nusantara menerima pengaruh Utsmani sedikit.saja, di antaranya penggunaan lambang Bulan Sabit dan Bintang serta kubah di masjid-masjid. Hingga kini dua ciri khas itu tetap menempel di masyarakat muslim Indonesia. Orang pun nampaknya sudah tidak tahu, lupa, atau tidak peduli asal-usul lambang bulan sabit dan bintang yang bernuansa pemujaan berhala dan agama Nasrani.

 

Bendera Republik Turki sejak 1936

sama persis dengan bendera Khilafah Utsmani, proporsi berbeda

 

Tidak ada bukti barang ataupun atsar yang menjelaskan bahwa Rasulullah pernah memerintahkan umat Islam untuk menggunakan lambang bulan sabit dan bintang ataupun memberi contoh penggunaannya. Satu-satunya ‘bulan sabit’ yang penting bagi umat Islam adalah hilal, ‘bulan sabit’ tipis sekejap, tanda awal bulan baru (tanggal 1). Namun, hilal memang bukan bulan sabit (tanggal 4-5). Tanpa adanya contoh dari Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, tidak layak bagi umat Islam mencanangkan lambang bulan sabit dan bintang sebagai lambang Islam.

Advertisements

The Death of the Smiling General

January 27, 2008

2008-01-27, Sonntag, 5:10PM

Berdasarkan penunjuk waktu di komputer ini, dan berita tadi siang, tepat 4 jam lalu Pak Harto wafat.

What’s the importance to me?

Almost nothing.

Aku tak punya hubungan pribadi dengan dia. Aku tak punya dendam pribadi pada dia. Aku tak punya jasa pribadi pada dia. Tak ada budi ataupun dendam yang harus dibayar. So?

kalau mau jujur – tanpa ego terlibat – hampir semua orang yang seumurku terlibat dengan ‘Suharto’, begitu teman-teman yang aktivis kampus menyebut dia. entah sebagai penerima subsidi, penerima beasiswa, sebagai aktivis, sebagai orang yang sering kasak-kusuk di pojokan warung nggosipin si mbah ….

semua terlibat.

ada yang pernah di dekatku dengan sengit berkata,

“Pembangunan yang dilakukan itu memang kewajiban dia, itu bukan jasa, kejahatannya harus diusut ….”

aku pikir,

kalau memang ada kejahatan, ya diusut saja ta … gak usah sengit begitu.

kita punya hukum, sebagai masyarakat yang inteletual, beri contoh juga pada masyarakat … patuhi hukum.

Kadang-kadang rekan-rekan mahasiswa (aku dan teman-temanku yang dulu sudah bukan mahasiswa) lupa diri saat membicarakan borok orang lain. Apa mau dikata, ternyata ada juga teman yang sengit begitu, tidak patuh hukum, NYONTEK saat ujian. Inikah yang disebut patuh hukum?

I believe that every life born on this earth is of pure nature. Tidak ada dosa, tidak ada kecenderungan berbuat jahat. Sepanjang hidupnya, dia menemui banyak peristiwa, konflik, pilihan. Setiap pilihan yang dibuat seseorang bukan saja menentukan jalan hidupnya selanjutnya. saya memahaminya sebagai :

satu pilihan membawa konsekuensi

satu pilihan akan tercatat di otak (atau hati, atau apapun  istilah teknisnya) dan akan jadi dasar pijakan tindakannya selanjutnya.

Orang yang terbiasa nyontek, sekali berhasil, akan timbul bisikan-bisikan di hatinya untuk mengulanginya lagi jika ada keperluan, jika ada kesempatan. Bukannya saya tidak pernah nyontek, pernah juga (sebenarnya memalukan mengakui ini), … dan gagal. Thank god, aku bersyukur saat itu aku gagal. Kalau tidak, mungkin aku akan terbiasa melakukannya. Juga saatlulus sekolah ….

kalau ada yang menganggap remeh, nyontek, hati-hati. kalau masih SMA masih wajar kalau nyontek, ‘masih anak-anak’. di perguruan tinggi, bahkan AKABRI sekalipun yang hawa akdemiknya tidak terlalu kental,

nyontek = one way ticket to being expelled.

Nyontek adalah hal serius. Terbiasa berbuat curang. Di kesempatan yang memungkinkan, bukan tidak mungkin orangyang sudah terbiasa mencontek akan berbuat yang lebih dahsyat. sedikit-sedikit menjadi bukit.

Mungkin saja si Mbah yang baru saja wafat itu dulu juga mengalaminya. sedikit-sedikit menjadi bukit. Kebiasaan ‘jahat’ yang terpupuk terus akan menjadi ‘character’, begitu kata Dale Carnegie. Abu Hamid Al-Ghazali mengibaratkannya bagai cermin yang kusam, tak pernah dilap/jarang-jarang, akhirnya seluruh muka cermin tertutup debu dan daki, tak terlihat lagi cemerlangnya.

bisakah rekan-rekan aktivis itu mengalaminya? mungkin saja. bahkan saya dan teman-teman sekantor baru beberapa hari yang lalu nggosipin seorang aktivis yangnampak paling radikal, keras, tanpa kompromi, akhirnya gabung juga dengan salah satu partai yang dulu dikatakannya ‘integritas partai itu terhadap reformasi diragukan’, kurang lebih begitu. What happened to him? Who knows? Only God knows.

So, apa hubungannya dengan Mbah Harto yang baru wafat?

Mbok ya o orang-orangyang suka ngritik itu mengkritisi diri  sambil mengkritisi orang lain. Barangkali saja para kritikus juga diam-diam punya kebiasaan yang akan jadi bibit berbuat jahat yang dahsyat. Semoga tidak.

investigasi harus diteruskan, saya setuju, tapi tetap dalam koridor hukum yang berlaku. kalaupun ada ganjalan-ganjalan dari oknum-oknum tertentu yang tidak menginginkan investigasi sehingga jalur hukum jadi buntu, ya SABAR. di sinilah orang harusnya sampai pada tahap memahami apa itu sabar. Bukan berarti diam, tidak melakukan apa-apa lagi, melainkan terus berjuang, berdoa, dan terima  yang terjadi dengan penuh kewaspadaan. Bukan bertindak membabi buta. Saya yakin, Dia Yang Di Atas melihat, mendengar, dan tidak tidur. Dia akan tunjukkan jalan jika manusia mau mencari jalan itu. sayangnya, banyak orang begitu mentok di tengah jalanlangsung menghentikan usahanya, lalu menyalahkan Tuhan. Semoga saya tidak termasuk yang demikian.

melihat tayangan proses evakuasi jenazah di TV, ada perasaan campur aduk yang di dada. Saya tahu beliau pernah jadi presiden. saya tahu, beliau pernah berbuat jasa pada negara. saya tahu juga beliau  berbuat zhalim pada orang-orang (pernah ketemu saksi-saksi hidup). Still, saya berpendapat: keadilan hanya didapat dengan cara yang adil pula, dalam hal ini lewat jalur hukum.

melihat Mbak Tutut bicara gak jelas (sambil nangis) memintakan maaf bagi bapaknya, yang bisa kurasakan yang pasti satu: aku tahu rasanya kehilangan bapak. That’s one thing – for sure – we have in common.

πρωτον των πολλων

December 1, 2007

At last, I write in this free service, provided by – thank you all – wordpress.com. Expressing one’s opinion is not a simple matter, even though it is quite easy – actually. Many things suppress people from expressing themselves: tradition, culture, even one self’s habits. I look upon this first writing as a little step towards many. That’s why I chose the title “πρωτον των πολλων” which means “the first of the many”, just a sip of Greek I have just learned.

I chose mathetaon – μαθηταων – as my user name because I look myself as only a student – out of many – in this journey called ‘life’. I study my life, others’ life, and everything that my senses can perceive, even just a glance.

Public domain as it is, I am fully aware that everyone can read anything I write to express. “Absit iniuria verbis”, I hope no one gets offended at anything I write. That is my primary concern, “One enemy is too much”.

Hello world!

December 1, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!