The Death of the Smiling General

2008-01-27, Sonntag, 5:10PM

Berdasarkan penunjuk waktu di komputer ini, dan berita tadi siang, tepat 4 jam lalu Pak Harto wafat.

What’s the importance to me?

Almost nothing.

Aku tak punya hubungan pribadi dengan dia. Aku tak punya dendam pribadi pada dia. Aku tak punya jasa pribadi pada dia. Tak ada budi ataupun dendam yang harus dibayar. So?

kalau mau jujur – tanpa ego terlibat – hampir semua orang yang seumurku terlibat dengan ‘Suharto’, begitu teman-teman yang aktivis kampus menyebut dia. entah sebagai penerima subsidi, penerima beasiswa, sebagai aktivis, sebagai orang yang sering kasak-kusuk di pojokan warung nggosipin si mbah ….

semua terlibat.

ada yang pernah di dekatku dengan sengit berkata,

“Pembangunan yang dilakukan itu memang kewajiban dia, itu bukan jasa, kejahatannya harus diusut ….”

aku pikir,

kalau memang ada kejahatan, ya diusut saja ta … gak usah sengit begitu.

kita punya hukum, sebagai masyarakat yang inteletual, beri contoh juga pada masyarakat … patuhi hukum.

Kadang-kadang rekan-rekan mahasiswa (aku dan teman-temanku yang dulu sudah bukan mahasiswa) lupa diri saat membicarakan borok orang lain. Apa mau dikata, ternyata ada juga teman yang sengit begitu, tidak patuh hukum, NYONTEK saat ujian. Inikah yang disebut patuh hukum?

I believe that every life born on this earth is of pure nature. Tidak ada dosa, tidak ada kecenderungan berbuat jahat. Sepanjang hidupnya, dia menemui banyak peristiwa, konflik, pilihan. Setiap pilihan yang dibuat seseorang bukan saja menentukan jalan hidupnya selanjutnya. saya memahaminya sebagai :

satu pilihan membawa konsekuensi

satu pilihan akan tercatat di otak (atau hati, atau apapun  istilah teknisnya) dan akan jadi dasar pijakan tindakannya selanjutnya.

Orang yang terbiasa nyontek, sekali berhasil, akan timbul bisikan-bisikan di hatinya untuk mengulanginya lagi jika ada keperluan, jika ada kesempatan. Bukannya saya tidak pernah nyontek, pernah juga (sebenarnya memalukan mengakui ini), … dan gagal. Thank god, aku bersyukur saat itu aku gagal. Kalau tidak, mungkin aku akan terbiasa melakukannya. Juga saatlulus sekolah ….

kalau ada yang menganggap remeh, nyontek, hati-hati. kalau masih SMA masih wajar kalau nyontek, ‘masih anak-anak’. di perguruan tinggi, bahkan AKABRI sekalipun yang hawa akdemiknya tidak terlalu kental,

nyontek = one way ticket to being expelled.

Nyontek adalah hal serius. Terbiasa berbuat curang. Di kesempatan yang memungkinkan, bukan tidak mungkin orangyang sudah terbiasa mencontek akan berbuat yang lebih dahsyat. sedikit-sedikit menjadi bukit.

Mungkin saja si Mbah yang baru saja wafat itu dulu juga mengalaminya. sedikit-sedikit menjadi bukit. Kebiasaan ‘jahat’ yang terpupuk terus akan menjadi ‘character’, begitu kata Dale Carnegie. Abu Hamid Al-Ghazali mengibaratkannya bagai cermin yang kusam, tak pernah dilap/jarang-jarang, akhirnya seluruh muka cermin tertutup debu dan daki, tak terlihat lagi cemerlangnya.

bisakah rekan-rekan aktivis itu mengalaminya? mungkin saja. bahkan saya dan teman-teman sekantor baru beberapa hari yang lalu nggosipin seorang aktivis yangnampak paling radikal, keras, tanpa kompromi, akhirnya gabung juga dengan salah satu partai yang dulu dikatakannya ‘integritas partai itu terhadap reformasi diragukan’, kurang lebih begitu. What happened to him? Who knows? Only God knows.

So, apa hubungannya dengan Mbah Harto yang baru wafat?

Mbok ya o orang-orangyang suka ngritik itu mengkritisi diri  sambil mengkritisi orang lain. Barangkali saja para kritikus juga diam-diam punya kebiasaan yang akan jadi bibit berbuat jahat yang dahsyat. Semoga tidak.

investigasi harus diteruskan, saya setuju, tapi tetap dalam koridor hukum yang berlaku. kalaupun ada ganjalan-ganjalan dari oknum-oknum tertentu yang tidak menginginkan investigasi sehingga jalur hukum jadi buntu, ya SABAR. di sinilah orang harusnya sampai pada tahap memahami apa itu sabar. Bukan berarti diam, tidak melakukan apa-apa lagi, melainkan terus berjuang, berdoa, dan terima  yang terjadi dengan penuh kewaspadaan. Bukan bertindak membabi buta. Saya yakin, Dia Yang Di Atas melihat, mendengar, dan tidak tidur. Dia akan tunjukkan jalan jika manusia mau mencari jalan itu. sayangnya, banyak orang begitu mentok di tengah jalanlangsung menghentikan usahanya, lalu menyalahkan Tuhan. Semoga saya tidak termasuk yang demikian.

melihat tayangan proses evakuasi jenazah di TV, ada perasaan campur aduk yang di dada. Saya tahu beliau pernah jadi presiden. saya tahu, beliau pernah berbuat jasa pada negara. saya tahu juga beliau  berbuat zhalim pada orang-orang (pernah ketemu saksi-saksi hidup). Still, saya berpendapat: keadilan hanya didapat dengan cara yang adil pula, dalam hal ini lewat jalur hukum.

melihat Mbak Tutut bicara gak jelas (sambil nangis) memintakan maaf bagi bapaknya, yang bisa kurasakan yang pasti satu: aku tahu rasanya kehilangan bapak. That’s one thing – for sure – we have in common.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: